Sejarah Kesenian

Suhartoyo, 20 Juni 2011

 

SEJARAH SINTREN

 

Sintren adalan kesenian tari tradisional masyarakat pesisir Jawa, khususnya di pesisir utara Jawa. Kesenian Sintren dikenal juga dengan nama lais. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.

SEJARAH

Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.

Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).

BENTUK PERTUNJUKAN

Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).

Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, si pawang (dalang) sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari Sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian lebih lincah dan mempesona.

Dalam pagelaran sintren, penontonpun dapat berinteraksi langsung dengan sang Sintren ketika sang Sintren sedang berlenggak-lenggok menari dengan cara melontarkan uang ke arah sang sintren, jika mengenai tubuh sang sintren, maka ia akan jatuh tak sandarkan diri, kemudian sang pawang sintren akan membangunkan kembali dan begitu terus selanjutnya sampai sang pawang mengembalikan Sang Sintren ke wujud asalnya.

 

Sumber : @Disbudpar Kota Cirebon

1735 Total Views 5 Views Today

4 Comments

agus salim on November 18, 2011 at 06:16.

cirebon itu kota yang indah tetapi kenapa masih banyak sekolah-sekolah yang tidak menerima orang miskin untuk sekolah itu yang harus diperhatikan oleh pemerintah kita

Reply

Degul on August 12, 2013 at 01:48.

cirebon kota harus memperhatikan masyarakat yang ekonominya rendah, dalam hal yaitu walikota (Ano S) harus memperjuangkan pendidikan yang lebih pintar, lebih maju lebih kedepankan masyarakat yang adil dan makmur, jangan melihat statusnya yang rendah tetapi pendidikannya (masyarakat miskinpun bisa mendapatkan pelajaran dan pendidikan tersebut) kalau ia pintar dan rata ratanya memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah setempat, terima kasih atas kerja samanya untuk mendidik anak yang lebih kedepankan serta maju AMMIIIIIIEEEENNNN…………….

Reply

Dwitama Susilo WATI on November 12, 2011 at 08:21.

apa karepmu

Reply

dwitama susilo on November 12, 2011 at 08:20.

blesak

Reply

Your email will not be published or shared. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>



Kejaksan - Serah terima jabatan dan pisah sambut kepala Rumah Tahanan kelas 1 Cirebon dari kunrat kamiri Amd IP, S.sos M AP Kepada Jalu Yuswa Panjang AmdIP SH Msi dihadiri oleh Sekretaris daerah Kota Cirebon Asep Dedi.( 17/01) Selain dihadiri oleh sekda kota cirebon acara tersebut dihadiri juga oleh Kaspolres Kota Cirebon Vivid adi , Kepala kejaksaan Negeri Cirebon Kota, Kepala Kejaksaan Negeri Kab Cirebon dan pimpinan daerah yang lain selain itu juga hadir Kakanwil Jawa barat Susi susilawati. Dalam kesempatan tersebut kakanwil kantor Hukum dan HAM Jawa barat Susi Susilawati  mengatakan bahwa di jawa barat ada 104 jabatan yang dipromosikan sebagai bentuk penyegaran di instasinya dan berharap agar pejabat yang baru tidak merusak sistem yang sudah berjalan akan tetapi dapat menjaga dan memelihara instansinya karena saat ini sedang menjadi sorotan publik, Ungkapnya ( PGH) 17/01 Save Save Save Save Save Save